Kisah Sedih Tokoh Malaysia Yang Berjuang Keras Agar Malaysia Bagian Dari Indonesia
Negara Indonesia dan Malaysia merupakan dua negara yang disebut serumpun. Hal itu disebabkan adanya persamaan budaya, bahasa dan ras dari kedua negara dan bangsa.
Tapi nyatanya, ketegangan dan gesekan kedua negara serumpun ini tak jarang pula terjadi yang membuat suasana kadang panas dingin. Sebut saja masalah klaim seni budaya, persoalan TKI, klaim teritorial wilayah dan yang terbaru yaitu kasus terbaliknya bendera Indonesia dalam buku panduan sea games 2017.
Tapi tahukah kamu, pada masa perjuangan ada wacana penyatuan dua wilayah ini. Sebuah gagasan tentang Indonesia Raya yang mencakup bekas Hindia Belanda plus semenanjung Melayu. Pemikiran mengintegrasikan Malaysia dengan Indonesia secara damai digagas oleh Ibrahim Yaacob usai Perang Dunia II.
Tapi tahukah kamu, pada masa perjuangan ada wacana penyatuan dua wilayah ini. Sebuah gagasan tentang Indonesia Raya yang mencakup bekas Hindia Belanda plus semenanjung Melayu. Pemikiran mengintegrasikan Malaysia dengan Indonesia secara damai digagas oleh Ibrahim Yaacob usai Perang Dunia II.
Di Dalam buku berjudul Menguak Misteri Sejarah yang ditulis Asvi Warman Adam menyebutkan, Ibrahim Haji Yaacob adalah seorang Melayu keturunan Bugis. Ia lahir 27 November 1911, di Kampung Tanjung Kertau, Temerloh, Pahang Malaysia.
Nenek moyang Leluhur beliau telah merantau ke Pahang awal abad ke-20. Ibrahim Yaacob mendapatkan pelajaran gerakan nasionalisme India, Mesir dan Indonesia saat bersekolah di Maktab Perguruan Sultan Idris (MPSI), di Tanjong Malim, Perak pada tahun 1928-1931 masehi.
"Bapak Ibrahim Haji Yaacob membaca surat kabar yang datang dari Indonesia seperti Persatuan Indonesia dan Fikiran Ra'jat," kata Asvi Warman Adam yang juga Ahli Peneliti Utama pada Pusat Pusat Penelitian Politik LIPI dalam buku Menguak Misteri Sejarah terbitan 2010 M.
Pada Tahun 1939 Ibrahim Yaacob beserta beberapa rekannya mendirikan Kesatuan Melayu Muda (KMM). Ketika usianya menginjak 29 tahun, Ibrahim Yaacob menjelma sebagai nasionalis radikal yang mengagumi Presiden Soekarno. Ketika Pada Tahun 1941 dengan bantuan uang dari Konsul Jenderal Jepang di Singapura, Ibrahim Yaacob membeli surat kabar Melayu di Singapura Warta Malayu.
Tapi ketika meletus perang pasifik 7 Desember 1941, Ibrahim beserta 110 anggota KKM ditangkap Inggris sekutu. Ketika Tentara Jepang mendarat di pantai timur semenanjung Melayu, pemuda KKM menjadi pemandu jalan dan juru bahasa bagi tentara Jepang (Nippon).
Dan Kemudian Jepang membentuk tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Pulau Jawa sedangkan di Sumatera dan dibentuk Giyugun Malaya. Ibrahim Jacoob mendapat latihan selama enam bulan dan Juni 1944 dilantik sebagai Komandan Giyugun dengan pangkat Letnan Kolonel.
Nenek moyang Leluhur beliau telah merantau ke Pahang awal abad ke-20. Ibrahim Yaacob mendapatkan pelajaran gerakan nasionalisme India, Mesir dan Indonesia saat bersekolah di Maktab Perguruan Sultan Idris (MPSI), di Tanjong Malim, Perak pada tahun 1928-1931 masehi.
"Bapak Ibrahim Haji Yaacob membaca surat kabar yang datang dari Indonesia seperti Persatuan Indonesia dan Fikiran Ra'jat," kata Asvi Warman Adam yang juga Ahli Peneliti Utama pada Pusat Pusat Penelitian Politik LIPI dalam buku Menguak Misteri Sejarah terbitan 2010 M.
Pada Tahun 1939 Ibrahim Yaacob beserta beberapa rekannya mendirikan Kesatuan Melayu Muda (KMM). Ketika usianya menginjak 29 tahun, Ibrahim Yaacob menjelma sebagai nasionalis radikal yang mengagumi Presiden Soekarno. Ketika Pada Tahun 1941 dengan bantuan uang dari Konsul Jenderal Jepang di Singapura, Ibrahim Yaacob membeli surat kabar Melayu di Singapura Warta Malayu.
Tapi ketika meletus perang pasifik 7 Desember 1941, Ibrahim beserta 110 anggota KKM ditangkap Inggris sekutu. Ketika Tentara Jepang mendarat di pantai timur semenanjung Melayu, pemuda KKM menjadi pemandu jalan dan juru bahasa bagi tentara Jepang (Nippon).
Dan Kemudian Jepang membentuk tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Pulau Jawa sedangkan di Sumatera dan dibentuk Giyugun Malaya. Ibrahim Jacoob mendapat latihan selama enam bulan dan Juni 1944 dilantik sebagai Komandan Giyugun dengan pangkat Letnan Kolonel.
Pada Ketika Pada 1945 terjadi pembahasan wilayah negara oleh Badan Penyelidikan Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Yaitu Apakah bekas Hindia Belanda atau ditambah Malaya, Papua Nugini, Borneo Utara dan Timor Portugal? atau bekas Hindia Belanda tanpa Papua Nugini? Mohammad Yamin menganjurkan alternatif kedua yakni Indonesia Raya.
Presiden Soekarno setuju dan pada pemungutan suara 39 dari 62 anggota badan tersebut memilih Indonesia Raya. Tapi dalam UUD 1945 yang disahkan tanggal 18 Agustus 1945 wilayah Indonesia itu tidak dinyatakan secara terang.
Ketika 8 Agustus 1945, delegasi Indonesia yakni Soekarno, Hatta dan Radjiman, berangkat ke Vietnam menemui Marsekal Terauchi. Ketika pulang delegasi mampir di Taiping Perak, di sana bertemu dengan Ibrahim Yaacob. Ketika itu, Ibrahim menyampaikan kepada Presiden Soekarno bahwa orang Melayu ingin mencapai kemerdekaan bagi Malaya di dalam kerangka Indonesia Raya.
"Beliau mengusulkan agar kemerdekaan Malaya juga diumumkan akhir Agustus."
Presiden Soekarno Terharu, lalu berkata, "Mari kita ciptakan satu tanah air bagi mereka dari keturunan Indonesia."
"Kami orang Melayu akan setia menciptakan ibu negara dengan menyatukan Malaya dengan Indonesia yang merdeka. Kami orang-orang Melayu bertekad untuk menjadi orang Indonesia."
Tapi semua itu tidak pernah menjadi kenyataan dan terealisasi. Nippon Jepang menyerah tanggal 15 Agustus 1945 M. Tentara PETA dan Giyugun diperintahkan Jepang untuk dibubarkan. Cita-cita Indonesia Raya kandas dan Redup.
Keadaan Situasi semenanjung Melayu jadi tidak aman, tanggal 19 Agustus Ibrahim Yaacob berangkat ke Jakarta bersama istrinya Mariatun Haji Siraj, iparnya Onan Haji Siraj dan Hassan Hanan. Presiden Soekarno menyarankan agar Ibrahim dan rekannya ikut bergabung dalam perjuangan di Pulau Jawa untuk mencapai cita-cita Indonesia Raya.
Beliau Ibrahim Yaacob berkesempatan bertemu Perdana Menteri Malaysia Tunku Abdul Rahman pasca 2 tahun Malaysia merdeka dari Inggris. Dan Pertemuan itu terjadi November 1955 atas undangan Presiden Soekarno. Di Dalam pertemuan informal itu, pendirian kedua tokoh malaysia tersebut bertentangan. PM Malaysia Tunku Bin Abdul Rahman menginginkan Malaya merdeka dalam Commonwealth atau persemakmuran Inggris sedangkan Ibrahim Yaacob ingin Malaya merdeka dan bergabung di bawah Indonesia Raya. Ketika kepemimpinan PM Najib Razak tahun 1973, Ibrahim Yaacob diperbolehkan berkunjung ke Malaysia.
Presiden Soekarno menunjuk Ibrahim Yaacob sebagai anggota MPRS mewakili Riau pada masa demokrasi terpimpin. Pasca Presiden Soekarno jatuh saat meletusnya Gerakan 30 September 1965, Bapak Ibrahim Jocoob memilih melepaskan diri dari kegiatan politik dan berkiprah di bidang swasta.
Di Indonesia ia dikenal dengan nama Iskandar Kamel, Beliau meninggal di Jakarta 8 Maret 1979 saat menjabat Direktur Bank Pertiwi. Beliau dimakamkan di Kalibata, Jakarta, Indonesia.
Presiden Soekarno setuju dan pada pemungutan suara 39 dari 62 anggota badan tersebut memilih Indonesia Raya. Tapi dalam UUD 1945 yang disahkan tanggal 18 Agustus 1945 wilayah Indonesia itu tidak dinyatakan secara terang.
Ketika 8 Agustus 1945, delegasi Indonesia yakni Soekarno, Hatta dan Radjiman, berangkat ke Vietnam menemui Marsekal Terauchi. Ketika pulang delegasi mampir di Taiping Perak, di sana bertemu dengan Ibrahim Yaacob. Ketika itu, Ibrahim menyampaikan kepada Presiden Soekarno bahwa orang Melayu ingin mencapai kemerdekaan bagi Malaya di dalam kerangka Indonesia Raya.
"Beliau mengusulkan agar kemerdekaan Malaya juga diumumkan akhir Agustus."
Presiden Soekarno Terharu, lalu berkata, "Mari kita ciptakan satu tanah air bagi mereka dari keturunan Indonesia."
"Kami orang Melayu akan setia menciptakan ibu negara dengan menyatukan Malaya dengan Indonesia yang merdeka. Kami orang-orang Melayu bertekad untuk menjadi orang Indonesia."
Tapi semua itu tidak pernah menjadi kenyataan dan terealisasi. Nippon Jepang menyerah tanggal 15 Agustus 1945 M. Tentara PETA dan Giyugun diperintahkan Jepang untuk dibubarkan. Cita-cita Indonesia Raya kandas dan Redup.
Keadaan Situasi semenanjung Melayu jadi tidak aman, tanggal 19 Agustus Ibrahim Yaacob berangkat ke Jakarta bersama istrinya Mariatun Haji Siraj, iparnya Onan Haji Siraj dan Hassan Hanan. Presiden Soekarno menyarankan agar Ibrahim dan rekannya ikut bergabung dalam perjuangan di Pulau Jawa untuk mencapai cita-cita Indonesia Raya.
Beliau Ibrahim Yaacob berkesempatan bertemu Perdana Menteri Malaysia Tunku Abdul Rahman pasca 2 tahun Malaysia merdeka dari Inggris. Dan Pertemuan itu terjadi November 1955 atas undangan Presiden Soekarno. Di Dalam pertemuan informal itu, pendirian kedua tokoh malaysia tersebut bertentangan. PM Malaysia Tunku Bin Abdul Rahman menginginkan Malaya merdeka dalam Commonwealth atau persemakmuran Inggris sedangkan Ibrahim Yaacob ingin Malaya merdeka dan bergabung di bawah Indonesia Raya. Ketika kepemimpinan PM Najib Razak tahun 1973, Ibrahim Yaacob diperbolehkan berkunjung ke Malaysia.
Presiden Soekarno menunjuk Ibrahim Yaacob sebagai anggota MPRS mewakili Riau pada masa demokrasi terpimpin. Pasca Presiden Soekarno jatuh saat meletusnya Gerakan 30 September 1965, Bapak Ibrahim Jocoob memilih melepaskan diri dari kegiatan politik dan berkiprah di bidang swasta.
Di Indonesia ia dikenal dengan nama Iskandar Kamel, Beliau meninggal di Jakarta 8 Maret 1979 saat menjabat Direktur Bank Pertiwi. Beliau dimakamkan di Kalibata, Jakarta, Indonesia.

Posting Komentar untuk "Kisah Sedih Tokoh Malaysia Yang Berjuang Keras Agar Malaysia Bagian Dari Indonesia"